Ihaiva stam mā vi yaustam, Visvām āyur vyasnutam. Krindantau putrair naptrbhih, Modamānau sve grhe. (Rgveda : X.85.42) Artinya : Wahai pasangan suami-isteri, semoga kalian tetap bersatu dan tidak pernah terpisahkan. Semoga kalian mencapai hidup penuh kebahagiaan, tinggal di rumah yang penuh kegembiraan bersama seluruh keturunanmu.
Tentang Kami
Tumbuhnya Rasa Suka
Aris dan Saras pertama kali bertemu di sebuah sudut perpustakaan kota yang bising oleh suara rintik hujan. Saras yang panik karena lupa membawa payung tiba-tiba disodori sebuah payung lipat biru oleh Aris, seorang barista dari kafe sebelah yang kebetulan sedang mencari ketenangan di sana. Percakapan singkat tentang buku favorit sore itu ternyata menjadi awal dari runtunan pesan singkat, cangkir-cangkir kopi yang dihabiskan bersama, dan tawa yang lambat laun mengubah status asing menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan.
Waktu yang Berjalan
Hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus; ego dan kesibukan kerja sempat beberapa kali menguji komitmen mereka. Namun, kedewasaan Aris yang tenang selalu berhasil mengimbangi sifat Saras yang kadang meledak-ledak, begitupun sebaliknya. Mereka belajar bahwa cinta bukan cuma tentang perasaan menggebu-gebu, melainkan tentang keputusan untuk tetap bertahan dan saling mendengarkan di masa-masa sulit, yang justru membuat ikatan mereka tumbuh semakin kuat dari tahun ke tahun.
Takdir yang Luar Biasa
Setelah lima tahun merajut cerita dan bertumbuh bersama, Aris akhirnya memantapkan hati untuk melamar Saras di tempat pertama kali mereka bertemu. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melangkah ke pelaminan, mengucap janji suci di hadapan keluarga dan teman-teman dekat dengan nuansa luar ruangan yang hangat. Pernikahan itu bukan akhir dari cerita mereka, melainkan babak baru tempat Aris dan Saras siap mengarungi sisa hidup bersama sebagai tim yang utuh.